Minggu, 05 Mei 2019

fiqih_thoharoh_kls 7MTS semester 1

MATA PELAJARAN FIKIH
Kelas VII Bab 


Pengertian Thaharah
Thaharah menurut  bahasa berarti bersuci. Menurut syara’ atau istilah adalah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari najis dan hadas menurut cara-cara yang ditentukan oleh syariat islam.
Thaharah atau bersuci adalah syarat wajib yang harus dilakukan dalam beberapa macam ibadah. Seperti dalam QS Al-maidah ayat 6:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Thaharah atau bersuci menurut pembagiannya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
  1. Bersuci lahiriah
Beberapa contoh yang bersifat lahiriah adalah membersihkan diri, tempat tinggal dan lingkungan dari segala bentuk kotoran, hadas dan najis. Membersihkan diri dari najis adalah membersihkan badan, pakaian atau tempat yang didiami dari kotoran sampai hilang rasa, bau dan warnanya.

2. Bersuci batiniah
Bersuci batiniah adalah membersihkan jiwa dari kotoran batin berupa dosa dan perbuatan maksiat seperti iri, dengki, takabur dan lain-lain. Cara membersihkannya dengan taubatan nashuha yaitu memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Macam-macam Alat Thaharah
Allah selalu memudahkan hambanya dalam melakukan sesuatu. Untuk bersuci misalnya, kita tidak hanya bisa menggunakan air, tetapi kita juga bisa menggunakan tanah, batu, kayu dan benda-benda padat lain yang suci untuk menggantikan air jika tidak ditemukan.
Dalam bersuci menggunakan air, kita juga harus memperhatikan air yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk bersuci.

Macam-macam air
Air yang dapat digunakan untuk bersuci adalah
  1. Air mutlak yaitu air yang suci dan mensucikan, yaitu air :
  • Air hujan
  • Air sumur
  • Air laut
  • Air sungai

  • Air danau/ telaga
  • Air salju
  • Air embun
    1. Air yang suci tetapi tidak dapat mensucikan, yaitu air yang halal untuk diminum tapi tidak dapat digunakan untuk bersuci seperti air teh, kopi, sirup, air kelapa.

  1. Air musyammas yaitu air yang terjemur oleh matahari dalam bejana selain emas dan perak. Air ini makruh digunakan untuk bersuci.
  2. Air mustakmal yaitu air yang telah digunakan untuk bersuci. Air ini tidak boleh digunakan untuk bersuci walaupun tidak berubah rasa, bau maupun warnanya
  3. Air mutanajis yaitu air yang sudah terkena najis. Baik yang sudah berubah rasa, warna dan baunya maupun yang tidak berubah dalam jumlah yang sedikit yaitu kurang dari dua kullah (270 liter menurut ulama kontemporer).

Cara-cara Thaharah
Ada berbagai cara dalam bersuci yaitu bersuci dengan air seperti berwudhu dan mandi junub atau mandi wajib. Ada juga bersuci dengan menggunakan debu, tanah yaitu dengan bertayamum. Dan bisa juga menggunakan air, tanah, batu dan kayu (tissue atau kertas itu masuk kategori kayu) yaitu dengan beristinja.

Cara-cara thaharah menurut pembagian najisnya
  1. Najis ringan  (najis mukhafafah)
Najis mukhafafah adalah najis yang berasal dari air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun kecuali air susu ibunya saja dan umurnya kurang dari 2 tahun. Cara membersihkan najis ini cukup dengan memercikkan air kebagian yang terkena najis.
  1. Najis sedang (najis mutawassitah)
Yang termasuk kedalam golongan najis ini adalah kotoran, air kencing dan sebagainya. Cara membersihkannya cukup dengan membasuh atau menyiramnya dengan air sampai najis tersebut hilang (baik rasa, bau dan warnanya).

2. Najis berat (najis mughalazah)
Najis berat adalah suatu materi yang kenajisannya ditetapkan berdasarkan dalil yang pasti (qat’i). yaitu anjing dan babi. Cara membersihkannya yaitu dengan menghilangkan barang najisnya terlebih dahulu lalu mencucinya dengan air bersih sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah atau batu.

3. Pengertian Hadast Kecil
Menurut bahasa artinya perkara yang baru sedangkan menurut istilah syara’ hadast adalah keadaan seseorang yang dianggap tidak suci menurut agama. Orang yang sedang berhadats berarti orang tersebut tidak suci walaupun bersih. Orang yang akan mengerjakan Sholat maka dia harus berwudhu terlebih dahulu apabila berhadats kecil, dan harus mandi apabila berhadats besar.
Sedangkan yang disebut dengan hadats kecil adalah hadats yang cara mensucikannya dengan berwudhu dan tayamum.
Adapun yang termasuk hadats kecil adalah sebagai berikut:
  1. Hilang akal atau hilang kesadarannya, seperti: tidur, gila, dan pingsan.
  2. Keluarnya sesuatu dari dua jalan yaitu qubul dan dubur, baik berupa benda padat, cair, gas.
  3. Dengan sengaja bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang sudah baligh dan bukan mahram, tanpa batas yang menghalangi antara kulit dengan kulit tersebut.
  4. Menyentuh kemaluan sendiri atau orang lain dengan jari atau telapak tangan tanpa alas

Ketentuan wudhu

1. Pengertian Wudhu
Wudhu menurut bahasa artinya bersih atau indah. Sedangkan menurut istilah syara’ wudhu adalah membersihkan dan menyucikan anggota-anggota wudhu untuk dihilangkan hadats kecil.
Wudhu wajib dikerjakan bagi seseorang yang akan mengerjakan sholat, sebab wudhu merupakan salah satu syarat sahnya sholat. Allah SWT berfirman:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

2. Syarat Wudhu
  • Islam
Tidak dianggap sah wudhunya orang-orang yang tidak beragama Islam (kafir).
  • Mumayiz
Orang yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dari pekerjaan yang dilakukan.
  • Air yang digunakan harus air yang suci dan mensucikan atau air mutlak.
  • Tidak berhadats besar. Jika seseorang sedang berhadats besar terlebih dahulu harus disucikan dengan mandi besar.
  • Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke kulit anggota wudhu.
    1. Rukun Wudhu
  • Niat
Niat merupakan gerak hati sengaja untuk melaksanakan wudhu, untuk menghilangkan hadats kecil yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT.
Berniat bila diucapkan sebagai berikut:
نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِ فَرْضَا لِلّهِ تَعَلَى
Artinya: aku niat wudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah.
  • Membasuh muka
Membasuh muka yaitu mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala sampai ujung dagu hingga batas antara dua telinga.
  • Membasuh kedua tangan sampai siku.
  • Mengusap kepala dari depan ke belakang dan kembali ke depan lagi.
  • Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
  • Tertib yaitu menerbitkan urutan amalan wudhu sesuai urutan yang ditentukan oleh Allah SWT pada surat Al Maidah ayat 6. 


3. Sunnah Wudhu

Selain rukun wudhu, ada yang sebaiknya dilaksanakan pada saat wudhu yaitu amalan yang menambah bagusnya serta lengkapnya wudhu yang disebut sunnah wudhu.
Adapun yang termasuk sunah wudhu di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Membaca basmalah pada permulaan wudhu.
  • Bersiwak (bersugi atau menggosok gigik).
  • Membasuh dua telapak tangan tiga kali.
  • Berkumur-kumur.
  • Istinsyaq dan Istintsar
Memasukkan air ke lubang hidung ketika berwudhu disebut Istinsyaq dan mengeluarkannya kembali disebut Istintsar.
  • Menyela-nyelai jenggot bagi orang yang memelihara jenggot.
  • Mengusap rambut kepala sampai rata.
  • Menyelai-nyelai kedua tangan dan jari kedua kaki ketika membasuh tangan dan kaki.
  • Membasuh kedua telinga luar dan dalam.
  • Mendahulukan membasuh anggota wudhu yang kanan dari pada yang kiri.
  • Membasuh setiap anggota wudhu masing-masing tiga kali.
  • Tidak berbicara selama berwudhu, kecuali sangat penting.
  • Tidak meminta tolong kepada orang lain dalam berwudhu.
  • Menggosok-gosok anggota wudhu agar lebih bersih.
  • Tidak mengelap air wudhu yang ada pada anggota wudhu setelah selesai berwudhu.
  • Tidak boros memakai air.
  • Beriringan dalam membasuh anggota wudhu, tidak terlalu lama selang waktunya dalam membasuh anggota wudhu yang satu dengan yang lainnya.

  • Berdoa setelah selesai berwudhu adalah sebagai berikut:
اَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَ نَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ(رواه أحمد و مسلم والترمذى)
  • Shalat sunah dua rakaat setelah selesai mengerjakan wudhu atau disebut shalat sunah wudhu.
    1. Batal Wudhu
Hal yang membatalkan wudhu pada intinya sama dengan sebab-sebab sesorang barhadats kecil. Adapun yang termasuk membatalkan wudhu ada empat macam, yaitu:
  • Hilang akal, disebabkan karena gila, ayan, pingsan, mabuk, dan tidur, kecuali tidurnya dengan duduk tan pa bersandar.
  • Keluar sesuatu dari qubul dan
  • Bersentuhan kulit laki-laki dan kulit perempuan yang sudah baligh dan bukan mahramnya.
  • Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan atau jari tampa alas


Ketentuan Tayamum

Untuk menyucikan hadats kecil selain dengan dengan cara berwudhu boleh, dengan cara tayamum, apabila sakit atau sebab-sebab lain yang membolehkan seseorang melakukan tayamum.

Pengertian Tayamum
Tayamum menurut bahasa artinya sama dengan Al qashdu yaitu menyengaja atau menuju. Sedangkan menurut istilah syariat Islam, tayamum adalah menyapukan debu yang suci ke muka dan kedua tangan sebagai ganti wudhu atau mandi besar dengan syarat dan rukun tertentu. Bagi orang yang berhalangan menggunakan air untuk berwudhu atau mandi besar karena berbagai macam sebab dalam syariat Islam diperbolehkan dengan cara tayamum.
Artinya: Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

  1. Alat yang Dipergunakan dalam Tayamum
Tayamum merupakan pengganti wudhu dan mandi besar sebagai rukhsahah atau kemudahan bagi orang yang tidak dapat menggunakan air karenagan halangan tertentu. Tayamum harus menggunakan debu atau tanah yang suci.

2. Syarat-syarat Tayamum
Yang termasuk syarat-syarat sah tayamum adalah sebagai berikut:
  • Sudah masuk waktu shalat.
  • Kesulitan mendapatkan air atau yang berhalangan memakai air karena sakit.
  • Dengan tanah atau debu (sebagai ulama membolehkan dengan batu atau pasir)
  • Tanah atau debu harus suci dari najis terlebih dahulu.
  • Cara bertayamum ialah menebakkan kedua telapak tangan pada dinding, kaca, atau benda lain yang diyakini ada debu. Setelah itu, kedua telapak tangan diusapkan pada muka diteruskan pada kedua tangan secara bergantian.

  1. Rukun Tayamum
Adapun yang termasuk rukun tayamum adalah sebagai berikut.
  • Niat yakni sengaja mengerjakan tayamum untuk menghilangkan hadats.
  • Mengusap tanah atau debu yang suci pada wajah.
  • Mengusapkan tanah yang suci pada kedua tangan.
Pendapat sebagai ulama batas tangan yang diusap adalah sampai siki-siku dan sebagaian yang lain sampai pergelangan tangan.

Sebab-sebab yang Membatalkan Tayamum
Tayamum dilakukan sebagai pengganti wudhu atau mandi besar karena ada sebab-sebab tertentu. Adapun sebab-sebab yang membolehkan seseorang melakukan tayamum adalah:
  • Tidak ditemukan air atau ada air tidak cukup untuk bersuci.
  • Karena sakit, yang apabila menggunakan air sakitnya akan bertambah parah.
  • Karena dalam perjalanan (musafir) yang sulit mendapatkan air.
  • Air yang digunakan amat sangat dingin, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
  • Ada air dekat dengan tempat kita, tetapi berbahaya bila pergi ke tempat itu.
  • Khawatir kehabisan waktu shalat.
  • Ada air tetapi sangant sedikit untuk keperluan yang lebih penting.
    1. Hal-hal yang MembatalkanTayamum
Seseorang yang sudah bertayamum dianggap batal apabila ada atau melakukan hal-hal sebagai berikut:
  • Semua yang membatalkan wudhu juga membatalkan tayamum.
  • Mendapatkan air sebelum shalat dimulai bagi orang yang bertayamum karena tidak ada air. Tetapi bagi orang yang bertayamum karena sakit, walaupun ada air tidak membatalkan tayamum.
  1. Pengertian Hadats Besar
Hadats besar adalah hadats yang cara menyucikannya dengan cara mandi besar.
  1. Hal-hal yang Termasuk Hadts Besar
Adapun yang termasuk hadats besar ini diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Keluarnya air mani baik dengan bermimpi atau tidak.
Nabi SAW bersabda:
فَإِذَا فَضَحْتَ الْمَاءَ فَاغْسِلْ (رواه ابو داود)
Artinya:
“Apabila air mani terpancar maka mandilah” (H.R. Abu Dawud).
  1. Haid (menstruasi), yaitu darah yang keluar dari rahim wanita pada setiap bulan dan bukan penyakit.
  2. Nifas, yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan.
  3. Mati atau meninggal dunia.
  4. Berhubungan suami istri.
  1. Larangan karena Berhadats Besar
Sesorang sedang berhadats besar dilarang sebagai berikut:
  1. Mengerjakan shalat. I’tikaf
  2. Mengerjakan thawaf. Membaca Al-Quran
  1. Ketentuan Mandi
    1. Pengertian Mandi
Mandi menurut bahasa artinya mengalirkan air pada tubuh, sedangkan menurut syariah Islam mandi ialah menyiramkan atau meratakan air keseluruh badan, mulai dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki dengan disertai niat. Dari pengertian mandi tersebut, maka yang membedakan kegiatan mandi, apakah itu mandi biasa, mandi sunah atau mandi wajib adalah tergantung pada niatnya. Apabila seseorang mandi yang niat tujuannya untuk menghilangkan bau yang tidak sedap dan kotorannya lainnya, maka mandi tersebut termasuk mandi biasa. Demikian juga apabila seseorang mandi ketika akan berangkat shalat Idul Adha agar mendapat pahala sunah-sunah hari raya, maka mandi tersebut termasuk mandi sunah. Sedangkan mandi yang niat dan tujuannya untuk menghilangkan hadats besar agar sah dalam melaksanakan ibadah, maka mandi ini disebut mandi janabah atau mandi besar atau mandi wajib, sebagai mana firman Allah SWT sebagai berikut:
bÎ)ur öNçGZä. $Y6ãZã_ (#r㍣g©Û$$sù 4
Artinya: Dan jika kamu junub Maka mandilah.

  1. Macam-macam Mandi
Dalam syariat Islam dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
  • Mandi Sunah
Mandi sunah adalah mandi yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW adapun yang termasuk mandi sunah antara lain sebagai berikut.
  1. Mandi hari jum’at
Maksudnya adalah bahwa setiap orang yang hendak melaksanakan shalat Jum’at disunahkan mandi.

2. Mandi setelah memandikan jenazah
Setiap orang yang selesai memandikan jenazah dianjurkan untuk mandi.

3. Mandi setelah sembuh dari gila
Orang gila yang telah sembuh atau sadar kembali disunahkan melakukan mandi sebab dalam keadaan gila kemungkinan ia junub tetapi tidak sadar.

4. Mandi hari raya Id
Yang dimaksud mandi hari raya Id adalah mandi yang dilaksanakan sebelum seseorang berangkat mengerjakan shalat hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.
  1. Mandi ketika akan melaksanakan ihram haji atau ihram umrah.
  2. Mandi ketika pertama kali masuk kota mekah.
  3. Mandi ketika akan wukuf di padang Arafah.
  4. Mandi akan pergi shalat Istisqo’.
  5. Mandi akan pergi shalat gerhana matahari.
  6. Mandi ketika akan melaksanakan sa’i.
  7. Mandi ketika akan mengerjakan thawaf.
  • Mandi Wajib
Mandi wajib artinya mandi yang wajib dilakukan karena seseorang berhadats besar. Allah SWT berfirman:
Artinya: dan jika kamu junub Maka mandilah.

Syarat Mandi
Syarat-syarat sahnya mandi adalah sebagai berikut:
  • Islam
Orang kafir atau orang yang tidak beragama Islam apabila ia berhadats besar kemuadian mandi junub maka mandinya tidak sah.
  • Mumayiz
Yaitu anak kecil yang sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang manfaat dan mana yang tidak manfaat atau mudharat.
  • Menggunakan air mutlak yaitu air yang suci dan menyucikan.
  • Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke seluruh anggota badan, seperti getah, cat, dan lain sebagainya harus dibersihkan terlebih dahulu.
  • Tidak dalam keadaan sedang haid atau nifas.
    1. Rukun Mandi
Yang dimaksud rukun mandi adalah sesuatu yang harus dikerjakan pada saat seseorang sedang mandi. Apabila salah satu yang termasuk rukun mandi tersebut tidak dikerjakan maka mandinya tidak sah. Adapun yang termasuk rukun mandi adalah sebagai berikut:
  • Niat
Orang yang berhadats ia harus berniat untuk menghilangkan hadats besar. Apabila wanita yang selesai haidnya hendaknya berniat menghilangkan hadats kotornya, dan jika seseorang mandinya sunah, maka ia harus berniat mandi sunah, dan seterusnya.
  • Menghilangkan najis yang ada di badan. Maksudnya jika ada najis pada badan terlebih dahulu dihilangkan.
  • Meratakan air keseluruh badan, mulai dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki.
  • Tertib, yaitu dilakukan secara berurutan dari rukun satu ke rukun berikutnya.

Sunnah mandi

Sunah mandi yaitu segala sesuatu yang dianjurkan oleh agama pada saat melakukan mandi. Adapun yang termasuk sunah atau anjuran ketika mandi adalah sebagai berikut:
  • Membaca “Basmalah” ketikan mulai mandi.
  • Mencuci kedua telapak tangan tiga kali.
  • Membersihkan kemaluan.
  • Berwudhu sebelum memulai mandi.
  • Menyegerakan mandi, maksudnya segera mandi setelah selesai haid atau nifas.
  • Menyela-nyelai rambut dengan air.
  • Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan.
  • Mendahulukan anggota badan yang kanan dari yang kiri.
  • Menutup aurat yaitu ditempat yang tertutup yang tidak dipandang oleh orang lain.


Sebab-sebab mandi wajib
Yang dimaksud mandi wajib adalah hal-hal yang menyebabkan seseorang itu wajib mandi. Adapun yang mewajibkan seseorang itu mandi (mandi wajib) adalah sebagai berikut:
  • Keluar air mani
Keluarnya air mani baik dalam keadaan sadar atau karena mimpi maka wajib mandi.
  • Haid (menstruasi)
Setiap wanita yang haid, apabila telah selesai haidnya, maka ia wajib mandi, menyiramkan air keseluruh badan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
  • Mati atau meninggal dunia
Setiap orang muslim yang meninggal dunia selain mati syahid, maka kaum muslimin yang masih hidup wajib memandikannya.
  • Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim ibu setelah melahirkan anak, maksudnya bahwa seorang ibu yang menjalani masa nifas sekitar empat puluh hari, sudah selesai, sudah tidak mengeluarkan darah lagi maka ia wajib mandi sebelum mengerjakan ibadah seperti: shalat, membaca Al-Qur’an, puasa dan lain-lain.
  • Wiladah/melahirkan, yaitu seorang ibu setelah melahirkan bayi, maka ia wajib mandi.
  • Jima’ atau berhubungan suami dan isteri.




Selamat belajar ...
Semoga harimu bahagia ...





Minggu, 28 April 2019

bab TOLERANSI_al-quran hadist_7MTS/2


Mata Pelajaran Al-Qur'an Hadits
BAB : Toleransi


Pengertian toleransi
Toleransi berasal dari kata bahasa latin, “tolerare” yang berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda.
Secara bahasa toleransi artinya kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Dan adapun dalam agama islam, toleransi disebut dengan tasamuh. Tasamuh artinya sama-sama berlaku baik, lemah lembut, dan saling memaafkan. Dalam pengertian istilah umum tasammuh adalah sikap sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, dimana terdapat rasa saling menghargai, menghormati, dan tenggang rasa antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran islam.
Cara membiasakan perilaku tasamuh dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
  1. Menghargai kepada sesama ciptaan Allah
  2. Memper_erat tali persaudaraan
  3. Tenggang rasa dan suka menolong kepada orang lain
  4. Menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan damai
  5. Menciptakan kehidupan yang baik
Ajaran toleransi dalam Al-Qur’an
Ajaran islam tentang tasammuh banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-qur’an. Adapun ayat-ayat Al-qur’an yang menjadi dasar tasamuh dalam islam, diantaranya Surah Al-Kafirun dan Al-Bayyinah.
  1. Surah Al-Kafirun
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ يَآَيُّهَا الْكَفِرُوْنَ (1)لآَ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ (2) وَلَااَنْتُمْ عَبِدُوْنَ مَا اَعْبُدُ (3) وَلَآ اَنَا عَابِدُ مَّا عَبَدْتُّمْ (4) وَلَآ اَنْتُمْ عَبِدُوْنَ مَا اَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ (6)
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
  • Katakanlah (Muhammad). “wahai orang-orang kafir!
  • Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,
  • Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,
  • Dan aku tidak pernah menjadi penyambah apa yang kamu sembah,
  • Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah
  • Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

  1. Arti mufradat
Arti
Mufradat
Arti
Mufradat
Aku
اَنَا
Katakan
قُلْ
Kamu sembah
عَبَدْتُّمْ
Orang-orang kafir
الْكَفِرُوْنَ
Untukmu
لَكُمْ
Aku menyembah
اَعْبُدُ
Agamamu
دِيْنُكُمْ
Kamu sembah
تَعْبُدُوْنَ
Dan untukku
وَلِيَ
Kamu
اَنْتُمْ
Agamaku
دِيْنِ
Penyembah
عَبِدُوْنَ

  1. Isi kandungan Surah
Surah Al-Kafirun diturunkan untuk menanggapi bujuk rayu para dedengkot kafir Quraisy yang menemui Rosulullah saw. dan berkata:“ Wahai Muhammad! Mari kita bersam-sama menyembah apa yang kita sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami.”Lalu kaum Quraisy menjanjikan beberapa imbalan yakni, seperti harta yang berlimpah sehingga akan membuat Rosulullah saw. menjadi lelaki yang terkaya di Kota Mekah, serta akan menikahkannya dengan wanita-wanita cantik. Lalu mereka berkata: “semuanya itu adalah untuk-Mu, asal kamu cegah diri-Mu dari mencaci maki tuhan-tuhan kami dan jangan pula diri-Mu menyebutnya dengan sebutan yang buruk. Jika diri-Mu tidak mau, maka sembahlah tuhan-tuhan kami selama 1th dan kami akan mengikuti pula agama-Mu selama 1th.” Kemudian Rosulullah saw. bersabda: “tunggulah sampai ada wahyu yang turun kepadaku dari Rabbku.” Lalu seketika itu Allah Swt. menurunkan Firman-Nya dalam Surah Al-Kafirun ayat 1-6. Kemudian Allah menurunkan ayat lagi yakni dalam Surah Az-Zumar ayat 64, yang berbuyi; katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?”
Setelah mendengar keterangan itu, perilah mereka dengan tangan hampa dan dalam keadaan hina dina. Jadi, sangatlah jelas bahwa Allah melarang Rosul-Nya untuk bertoleransi dalam masalah akidah dan syari’ah kepada orang kafir. Dan pada ayat ke-6 dalam Surah Al-Kafirun bukanlah ayat toleransi, melainkan ayat penegasan untuk tidak mengikuti apa-apa yang orang kafir suruh kepada kita umat islam.
  1. Hikmah Surah Al-Kafirun dan toleransi
Berikut hikmah yang bisa kita ambil dari pembahasan materi di atas:
  • Islam menghargai eksistensi agama lain
Pengakuan islam dengan agama lain tidak berarti pengakuan islam akan adanya agama yang benar selain islam. Karena kami sebagai kaum muslimin harus yakin bahwa islam adalah satu-satunya agama yang benar yang berhak dianut seluruh umat manusia, hal ini secara jelas telah Allah Swt. sebutkan dalam Surah Ali-Imran ayat 19, yang;
Artinya:”Sesungguhnya agama yang di ridhoi di sisi Allah hanyalah Islam…”
  • Agama islam tidak pernah memaksa
Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 256:
لاإكراه فى الدين …
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam) …”
  • Toleransi dengan agama lain diperbolehkan selama dalam ramah mu’amalah dan tidak dalam ranah akidah
Hal ini dimaksudkan bahwa kita sebagai kaum muslimin diperbolehkan bertoleransi kepada yang tidak beragama islam dalam perkara hubungan sesama manusia. Akan tetapi, ketika dalam masalah akidah atau ibadah kita di haramkan untuk bertoleransi kepada mereka.
  • Islam menghargai pluralitas agama tapi tidak untuk pluralisme agama
Orang kafir berhak untuk tetap dengan agamanya, tapi di akhirat ia harus mempertanggungjawabkan atas pilihannya. Akan tetapi, kaum muslim wajib mengajak mereka dengan seruan islam.
  1. Surah Al-Bayyinah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتَبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ (1) رَسُوْلٌ مِنَ اللهِ يَتْلُوْ صُحُفًا مُطَهَّرَةً (2) فِيْهَا كِتَبٌ قَيِّمَةٌ (3) وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتَبِ اِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ (4) وَمَآ اُمِرُوْآ اِلَّالِيَعْبُدُوا اللهِ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءُ وَيُقِيْمُوا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ (5) اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتَبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَاِر جَهَنَّمَ خَلِدِيْنَ فِيْهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6) اِنَّ اَّلذِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّلِحَتِ اُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَآؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَرُ خَلِدِيْنَ فِيْهَا اَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
  • Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata
  • (yaitu) seorang rosul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Al-Qur’an)
  • Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (bener)
  • Dan tidaklah terpecah belah orang Ahli kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata
  • Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agam yang lurus (benar)
  • Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk
  • Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk
  • Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya
  1. Arti mufradat
Arti
Mufradat
Arti
Mufradat
Mendirikan shalat
يُقِيْمُوا الصَّلَةَ
Tidaklah
لَمْ يَكُنِ
Menunaikan zakat
يُؤْتُوا الزَّكَوةَ
Orang-orang yang kafir
الَّذِيْنَ كَفَرُوا
Agama yang lurus
دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
Ahli kitab
اَهْلِ الْكِتَبِ
Kekal di dalamnya
خَالِدِيْنَ فِيْهَا
Orang-orang musyrik
الْمُشْرِكِيْنَ
Sejahat-jahat makhluk
شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Meninggalkan
مُنْفَكِّيْنَ
Sungguh orang-orang   yang beriman
اِنَّ الَّذِيْنَ اَمَنُوا
Bukti yang nyata
الْبَيِّنَةُ
Mengerjakan amal saleh
عَمِلُوا الصَّلِحَتِ
Lembaran-lembaran yang suci
صُحُفًا مُطَهَّرَةً


Arti
Mufradat
Arti
Mufradat
Sebaik-baik makhluk
خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Kitab-kitab yang lurus
كُتُبٌ قَيِّمَةٌ
Allah ridha
رَضِيَ اللهُ
Terpecah belah
تَفَرَّقَ
Takut (kepada) tuhannya
خَشِيَ رَبَّهُ
Ikhlas
مُخْلِصِيْنَ

  1. Isi Kandungan Surah
Ayat 1 menjelaskan bahwa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta kaum musyrikin, baik yang di mekkah atau di luar mekkah akan tetap teguh memegang pendirian mereka.
Pada ayat 2 dan 3 menjelaskan bukti yang telah meragukan meereka. Bukti tersebut adalah diutusnya Nabi Muhammad saw. yang membacakan untuk mereka lembaran-lembaran Al-Qur’an yang bersih dari segala kesalahan, penyelewengan, dan penambahan. Pada lafal kutubun qayyimah dari ayat 3 berarti bahwa didalam Al-Qur’an terdapat isi dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, seperti Kitab Taurat, Zabur, dan Injil.
Ayat 4 dan 5 menjelaskan bahwa Ahli Kitab terpecah belah setelah datang bukti kebenaran di dalam Al-Qur’an. Mereka terpecah belah antara beriman kepada Rasululah saw. atau tidak mengimaninya. Perpecahan Ahli Kitab tidak hanya terjadi pada masa Nabi Muhammad saw. tetapi sejak masa sebelumnya. Padahal Allah telah memerintahkan kepada mereka untuk menaati Allah Swt. dengan melaksanakan sholat dan membayar zakat. Perintah tersebut sama dengan yang di perintahkan kepada Nabi Muhammad saw.
Ayat 6, 7 dan 8 menjelaskan tentang keadaan orang-orang kafir dan orang-orang beriman di akhirat kelak. Mereka akan menerima balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Orang-orang kafir dari karangan Ahli Kitab dan kaum musyrikin akan menempati Neraka Jahannam selama-lamanya karena telah menolak ajaran Nabi Muhammad saw. Mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk. Adapun orang-orang beriman akan menempati Surga ‘Adn selama-lamanya karena telah menerima ajaran Nabi Muhammad dan berbuat baik. Mereka adalah sebaik-baik makhluk. Mereka akan tinggal di surga dalam keadaan rela dan puas.

  1. Hikmah perilaku toleransi
Berikut ini beberapa hikmah apabila sikap toleran diterapkan dengan baik;
  1. Kehidupan masyarakat menjadi rukun dan damai
  2. Tercipta keamanan dan ketentraman hidup antar sesama anggota masyarakat
  3. Terpenuhinya hak-hak masyarakat
  4. Terwujudnya rasa aman dalam menjalankan ibadah masing-masing pemeluk agama
  5. Terlindunginya keberadaan tempat-tempat ibadah
  6. Menumbuhkan persatuan dan rasa kebersamaan sesama anggota masyarakat
  1. Hadist-hadist Toleransi
  2. Lafal dan terjemah hadist
Nabi Muhammad merupakan teladan bagi umat islam. Nabi Muhammad telah mencontohkan sikap toleransi dalam membangun kehidupan di Madinah. Saat itu, kaum muslimin dapat hidup berdampingan dengan kaum yahudi dan nasrani secara damai. Nabi Muhammad telah menyampaikan dalam banyak hadist agar umat islam senantiasa mengembangkan sikap toleransi. Adapun hadist Nabi Muhammad yang berkaitan dengan sikap toleransi, diantaranya seperti berikut:
  1. Hadist dari Ibnu Umar r.a
عَنِ ابْنِ عَمْرٍ رضي الله عنه انّ رسولَ اللهِ عليه وسلّم قَالَ : خَيْرُالْأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ (اخرجه احمد واالترمذي وابن حبان والحاكم والبيهقي وسعيد بن منصور والدارمي والبخاري وابن خزيمة)
Artinya:“Dari Ibnu Umar r.a, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “sebaik-baiknya sahabat disisi Allah adalah yang paling baik diantara mereka terhadap sesama saudaranya. Dan, sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang paling baik diantara mereka terhadap tetangganya.”(HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Hibban, Baihaqi, Sa’id bin Manshur, ad-Darimi, Bukhari, dan Ibnu Khuzaimah)
  1. Hadist dari Anas bin Malik
عَنْ اَنَسٍ رضيَ اللهُ عنهُ انّ رسولَ اللهِ صلّى اللهُ عليهِ وسلّمَ قالَ: وَاَّلذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَا يُؤمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (اخرجه مسلم وابو يعلى)
Artinya:“Dari Anas bin Malik r.a, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda; “Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Muslim dan Abu Ya’la)
  1. Arti mufradat
  2. Hadist dari Ibnu Umar
Lafal
Arti
خَيْرُ اْلأَصْحَابِ
Sebaik-baik sahabat
عِنْدَ اللهِ
Disisi Allah
خَيْرُهُمْ
Paling baik diantara mereka


Lafal
Arti
لِصَاحِبِهِ
Terhadap sahabatnya
وَخَيْرُالْجِيْرَانِ
Dan sebaik-baik tetangga
لِجَارِهِ
Terhadap tetangganya

  1. Hadist dari Anas bin Malik
Lafal
Arti
Lafal
Arti
عَبْدٌ
Seorang hamba
وَالَّذِى
Demi yang
حَتَّى
Sampai
نَفْسِى
Jiwaku
يُحِبُّ
Dia mencintai
بِيَدِهِ
Di tangan-Nya
لِجَارِهِ
Tetangganya
لاَ
Tidak
لِنَفْسِهِ
Terhadap dirinya sendiri
يُؤْمِنُ
Beriman

  1. Kandungan Hadist
Hadist dari Ibnu Umar mengajarkan agar umat islam saling membantu dan bersikap toleran terhadap tetangga dan memenuhi hak-hak tetangga. Keberadaan tetangga tidak berbeda dengan anggota keluarga dalam memengaruhi kepribadian seseorang. Akibat sering berinteraksi, mereka bisa mengetahui rahasia yang tidak diketahui oleh masyarakat umum. Kebaikan seseorang di buktikan dengan besarnya kesabaran dirinya saat berinteraksi bersama tetangganya. Oleh karena itu, para tetangga dan kawan tidak akan melontarkan pujian dan sanjungan, kecuali setelah mereka melihat cara pergaulan yang baik dan moral yang luhur pada dirinya. Maka, kembali pada sebuah pedoman, seseorang tidak bisa dikenali dengan baik, kecuali melalui pergaulan. Rahasia ini hanya berada di tangan keluarga, tetangga, dan sahabat dekat.
Hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik menunjukkan bahwa seorang mukmin merasa senang dan gembira bila saudaranya seiman merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan. Begitu juga, dia ingin agar saudaranya itu mendapatkan kebaikan seperti yang di anugerahkan kepadanya. Hal ini bisa terealisasi manakala dada seorang mukmin secara sempurna terselamatkan dari penyakit iri dan dengki. Sebab sifat dengki mengindikasikan bahwa si pendengki tidak suka bila kebaikan seseorang melebihi dirinya atau bahkan menyamainya. Dia ingin agar kelebihan yang ada padanya selalu di atas orang lain. Ia tidak ingin ada orang yang menyainginnya. Sedangkan keimanan mengindikasikan sebaliknya yaitu agar semua orang yang beriman sama-sama diberikan kebaikan seperti dirinya, tanpa dikurangi sedikitpun.
  1. Penerapan Toleransi
Toleransi terhadap umat agama lain maupun tetangga harus kita terapkan dalam kehidupan setiap hari. Berikut ini beberapa bentuk penerapan sikap toleran;
  1. Saling menghormati, memuliakan, dan saling tolong menolong terhadap sesama tetangga.
  2. Saling membantu keperluan masing-masing tetangga.
  3. Tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain karena tidak dibenarkan agama dan akal sehat.
  4. Sabar dalam menghadapi sikap orang-orang yang mendustakan islam, sebagaimana para rasul terdahulu.
  5. Bergaul dengan sesama tanpa membedakan agamanya.



Semoga harimu dipenuhi kebahagiaan
Belajar dengan penuh senang ...